BENINGNEWS- AS menghadapi perang yang terlalu mahal dalam menyerang Iran. Sementara Israel memiliki kepentingan untuk Amerika Serikat (AS) melanjutkan perang dengan Iran yang tidak ada kepastian kapan berakhirnya.
'Demikian pandangan ahli Timur Tengah Smith Alhadar dalam diskusi terbatas ''‘’Perubahan Geopolitik Kawasan Asean Pasca Perang Teluk’’di TIM Jakarta, kemarin dengan para aktivis Senior Gerakan Mahasiswa 1980-an dan 1998 dengan moderator Herdi Sahrasad, associate professor di Sekolah Pasca Sarjana Universitas Paramadina. Para partisipan antara lain mantan Sekjen DPR_RI Dr Ir Indra Iskandar, mantan aktivis ITB Ir Ammarsyah Purba, mantan aktivis GMNI Bab R Randilawe, aktivis NGO Standard Kia, Rahadi T Wiratama, Parulian , Niko Ardian, Kasino, Barita, KH CH. Umam Wiranu dan lainnya. Implikasi perang Iran vs Israel_AS sangat berdampak negatif bagi Asia Tenggara dan kawasan dunia lainnya terutama menyebabkan lonjakan/naiknya harga energi yang tinggi dan dampak negatif bagi ekonomi-sosial dan keamanan kawasan.
"Perang AS dengan Iran terlalu mahal dan AS bisa kehabisan sumberdaya ekonomi-militer yang dibutuhkan untuk mengalahkan Iran. Tapi Iran yakin tak bisa dikalahkan, bahkan Iran mengklaim memenangkan perang tsb. Dan memang Israel berkepentingan untuk perang ini dilanjutkan karena ingin menundukkan Iran agar tidak jadi kekuatan regional di Timur Tengah,’’kata Smith, yang pernah studi di Iran dua tahun.
Menurutnya, Trump akan kalah telak kalau dia menghentikan perang sebelum Iran kalah, ‘’ tapi Iran tidak bisa kalah sehingga dilematis bagi Israel," ujar Smith Alhadar.
Pengamat Timur Tengah sekaligus penasihat (advisor) ISMES (Indonesian Society for Middle East Studies) , Smith Alhadar menilai Israel menyadari kemungkinan AS/Eropa Barat di masa depan tidak bisa lagi membela dan menyokong kepentingan nasionalnya untuk mendominasi Timur Tengah.
Smith Alhadar menilai bahwa perang terbuka atau pergantian rezim (regime change) di Iran oleh Amerika Serikat adalah tindakan yang tidak rasional dan kecil kemungkinannya berhasil.
Tuntutan AS agar Iran membatasi program rudal balistiknya adalah harga mati bagi Teheran, karena rudal tersebut merupakan sistem pertahanan utama mereka. Gagalnya Tekanan Militer atau ancaman militer dari AS tidak akan melemahkan Iran, justru semakin memperkuat perlawanan rakyatnya demi mempertahankan martabat bangsa,dengan nasionalisme Iran yang luar biasa
Smith Alhadar menyoroti bahwa Israel selalu berkepentingan mendorong AS untuk terus melanjutkan perang atau memprovokasi konflik baru, termasuk potensi sabotase dari pihak Benjamin Netanyahu.
Terkait perkembangan perundingan dan gencatan senjata, Smith melihat baik AS maupun Iran sama-sama berupaya menampilkan posisi yang kuat, sementara situasi tetap sarat ketidakpastian. I red

COMMENTS