JAKARTA - Mengapa gelombang panas terus melanda Eropa? Adakah gelombang panas itu kelak melanda Asia Tenggara dan wilayah lainnya dengan kedahsyatan yang sama atau serupa? Lalu, adakah kebahagiaan di kalangan masyarakat kita di tengah carut marut krisis iklim dan masalah besar lainnya? Lantas, apakah substansi kebahagiaan itu bagi umat manusia? Adakah kebahagiaan di sanubari rakyat miskin dan tertinggal sekitar kita tatkala krisis korupsi terus meluas di negeri ini?
Demikian antara lain pelbagai pertanyaan yang berkembang dalam simposium mahasiswa Sekolah Pasca Sarjana Studi Islam Universitas Paramadina Sabtu-Minggu kemarin pada camping Filsafat di Bukit Sentul Bogor.
Ahli filsafat Dr Budhy Munawar Rachman, ilmuwan sosial Dr Herdi Sahrasad, akademisi Dr Sunaryo dan antropolog Dr Suratno MA mengungkapkan pandangan mereka dalam forum ilmiah yang hangat tersebut. Dari isu Kebahagiaan sampai Krisis dan Perubahan Iklim menjadi topik kajian dalam camping filsafat tersebut. Berfilsafat adalah berpikir secara kritis.
Budhy Munawar mengungkapkan gelombang panas ekstrem di Eropa dipicu oleh fenomena kubah panas (heat dome) yang memerangkap udara panas dan didorong oleh perubahan iklim. Suhu mencapai lebih dari 43 derajat Celsius, memicu rekor suhu tertinggi dan ratusan korban jiwa akibat cuaca.
'Sejumlah wilayah mengalami dampak serius. Prancis dan Spanyol mencatat ribuan kasus kematian dan peningkatan rawat inap di tengah suhu yang menyengat,'' tuturnya
Dosen filsafat STF Driyarkara Dr Budhy Munawar Rachman mengatakan, gagasan soal kebahagiaan ini dipetakan melalui beberapa mazhab utama, seperto Eudaimonia (Aristoteles).’’ Kebahagiaan tertinggi bukan soal perasaan, melainkan aktivitas jiwa yang selaras dengan kebajikan dan rasionalitas dalam menjalani kehidupan secara utuh,’’ujarnya
Dr Sunaryo mengatakan, dalam filsafat, kebahagiaan bukanlah sekadar kesenangan emosional sesaat, melainkan tujuan akhir kehidupan (summum bonum) yang dicapai melalui kebijaksanaan, kebajikan, dan kehidupan yang bermakna. ‘’Pemaknaannya sangat bergantung pada aliran yang dianut, dari rasionalitas, pengendalian diri, hingga spiritualitas,’’ujarnya.
Kebahagiaan bersumber dari ketenangan batin (ataraxia) yang dicapai dengan fokus pada hal-hal yang dapat kita kontrol, serta menerima segala hal di luar kendali kita dengan lapang dada.
Para pembicara melihat, adab 21 ini kebahagiaan lebih dikaitkan dengan Hedonisme dimana manusia memaknai kebahagiaan sebagai pencarian kenikmatan dan meminimalisir rasa sakit. Namun, filsuf seperti John Stuart Mill mengingatkan adanya paradoks hedonisme: semakin obsesif seseorang mengejarnya, kebahagiaan justru semakin sulit didapat.
Kita tahu bahwa Al-Ghazali pernah mengungkapkan : ‘’Kebahagiaan sejati (al-falah) bersumber pada pengenalan terhadap diri sendiri, dunia, dan pencipta-Nya. Kebenaran spiritual dan kedekatan dengan Tuhan adalah puncak dari segala kenikmatan.’’


COMMENTS